Tarian Tradisional Maluku

6 min read

Tarian tradisional maluku

Tarian Tradisional Maluku – Indonesia kaya akan budaya. Setiap daerah dari Sabang sampai Merauke memiliki budaya yang berbeda-beda, mulai dari tarian hingga upacara adat. Semuanya memiliki karakteristik unik yang sangat menarik untuk diketahui.

Suku bangsa Ambon menempati Pulau Ambon, Hitu dan Saparua, Provinsi Maluku. Sebenarnya mereka berasal dari Pulau Seram laksana halnya dengan suku-suku bangsa beda yang lebih dulu menempati pulau-pulau di Maluku Tengah. Bahasa Suku Ambon.

Bahasa Ambon sendiri adalahperkembangan dari bahasa pribumi yang diprovokasi oleh bahasa Melayu. Ada pun yang menyinggung bahasa Ambon sebagai bahasa Melayu Ambon atau Nusalaut.

Pemakai bahasa ini kini berjumlah selama 100.000 jiwa, belum tergolong yang sedang di Negeri Belanda. Melihat wilayah pemakaiannya bahasa Ambon dipecah ke dalam dialek-dialek :

  • Nusalaut
  • Saparua,
  • Haruku,
  • Hila,
  • Asilulu,
  • Hatu,
  • Wakasihu,
  • dan lain-lain.

Sekarang bahasa Ambon menjadi bahasa pengantar untuk masyarakat yang berbeda-beda suku bangsa di wilayah Provinsi Maluku.

Nah, pada artikel kali ini kita akan membahas 6 tarian tradisional yang berasal dari daerah Maluku. Ya, selain terkenal dengan pantai-pantai indahnya, Maluku juga banyak memiliki tarian tradisional yang sangat menarik, mulai dari tarian penyambutan, hingga tarian perang. Penasaran tarian khas apa saja yang berasal dari Maluku? Berikut selengkapnya.

Tarian Tradisional Maluku

Tarian bambu gila merupakan tarian paling terkenal dari orang Ambon, tarian ini juga dikenal dengan nama buluh gila atau bara suwen.

Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyam di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam “bahasa tanah” yang merupakan salah satu bahasa tradisional Ambon.

Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan, jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu.

Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.

Tarian Saureka-reka Maluku

tarian maluku
sholehuddin.com

Saureka-reka disebut juga dengan tari gaba-gaba (pelepah pohon sagu). Tarian tradisional maluku ini sebenarnya lebih mirip seperti permainan engklek.

Perbedaanya, dalam permainan engklek sang pemain harus melompat dan tidak boleh menginjak garis gambar, sedangkan pada tarian saureka-reka pemain harus melompat menari mengikuti sekaligus menghindari hentakan gaba-gaba.

Tarian saureka-reka menuntut kelincahan kaki dan fokus dari pemainnya. Tarian ini biasanya terdiri dari 8 orang penari, 4 laki-laki yang bertugas menghentakkan gaba-gaba dan 4 perempuan yang menari di antara gaba-gaba mengikuti irama tifa (alat musik seperti kendang khas Maluku) dan ukulele.

Tarian asli Maluku ini, biasanya digunakan sebagai bentuk ucapan terima kasih atas anugerah kehidupan dan kesuburan dari Tuhan YME.

Selain itu, tarian ini juga ditampilkan pada acara-acara penyambutan tamu, sebagai simbol rasa terima kasih dari penduduk kepada tamu tersebut karena telah berkenan berkunjung ke Maluku.

Menurut WikiPedia

Tarian Saureka Reka merupakan sebuah tarian yang berasal dari daerah Maluku. Tarian ini dimainkan oleh muda mudi yang terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan.

Pada mulanya tarian ini dimainkan hanya pada saat musin panen sagu yang merupakan ungkapan rasa syukur rakyat namun pada saat ini tarian Saureka Reka sudah banyak dimainkan pada pertunjukkan-pertunjukkan.

Dalam melakukan tarian ini, ketepatan dan kelincahan merupakan poin penting. Para perempuan menari menghindari gaba-gaba yang terbuat dari bilah pohon sagu maka para perempuan harus memiliki stamina dalam menari. Jika tidak maka kaki akan terjepit atau terjatuh.

Properti yang digunakan untuk tarian Saureka Reka adalah gaba-gaba, tifa dan totobuangGaba-gaba hanya dimainkan oleh laki-laki sementara perempuan menari menghindari gaba-gaba.

Sedangkan tifa dan totobuang digunakan sebagai musik pengiring tarian ini. Tifa merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul yang mirip dengan gendang dan totobuang adalah gong kecil yang memiliki not-not nada.

Pakaian yang dipakai dalam tarian ini adalah baju adat dengan bawahan yang longgar bagi perempuan agar memudahkan dalam melompat, sedangkan bagi laki-laki bisa memakai baju adat juga ataupun baju biasa namun tetap dengan corak yang seragam.

Tarian Lenso Maluku

tari-lenso
sholehuddin.com

Lenso atau tarian muda-mudi. Lenso sendiri adalah sebuah kain yang berbentuk seperti selendang kecil atau saputangan. Masyarakat dari daerah timur Indonesia biasa menyebut selendang kecil dengan Lenso.

Fungsi dari lenso dalam tarian ini adalah sebagai alat persetujuan atau penolakan. Jumlah penarinya beragam ada yang terdiri dari 6 hingga 10 orang dalam satu kali pementasan.

Tarian ini biasanya disimbolkan sebagai tarian pencarian jodoh bagi muda-mudi yang masih lajang/bujang. Saat menari penari akan menghempaskan lensonya kepada pemuda atau pemudi yang dituju.

Jika selendangnya di terima, maka cinta dari sang penari diterima oleh pemuda atau pemudi tersebut. Namun jika lensonya dibuang maka cinta dari sang penari telah ditolak.

Tarian ini bisanya dipentaskan dalam acara pesta pernikahan, pesta perayaan panen cengkah dan kopi, tahun baru dan kegiatan-kegiatan lainnya. Musik pengiring tarian ini dihasilkan dari perpaduan irama tambur minahasa, suling, kolintang, dan tetengkoren.

Menurut WikiPedia

Tari Lenso adalah tarian muda-mudi dari daerah Maluku dan Minahasa ,Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya di bawakan secara ramai-ramai bila ada Pesta.

Baik Pesta Pernikahan, Panen Cengkih, Tahun Baru dan kegiatan lainnya. Beberapa sumber menyebutkan, tari lenso berasal dari tanah Maluku. Sedangkan sumber lain menyebut tari ini berasal dari Minahasa.

Tarian ini juga sekaligus ajang Pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang, di mana ketika lenso atau selendang diterima merupakan tanda cinta diterima.

Lenso artinya Saputangan. Istilah Lenso, hanya dipakai oleh masyarakat di daerah Sulawesi Utara dan daerah lain di Indonesia Timur.

Dalam tarian ini, yang menjadi perantara adalah lenso atau selendang. Selendang inilah yang menjadi isyarat: selendang dibuang berarti lamaran ditolak, sedangkan selendang diterima berarti persetujuan.

Tarian Cakalele Maluku

tarian maluku
sholehuddin.com

Cakalele atau tarian perang. Tarian ini biasanya dibawakan secara beramai-ramai. Jumalah penarinya bisa mencapai 30 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dan mereka saling berpasangan.

Tidak seseram namanya, tarian ini biasanya dipentaskan dalam rangka menyambut tamu, pembukaan acara tertentu dan perayaan adat.

Tarian ini memiliki keistimewaan tersendiri. Keistimewaan tersebut berasal dari atribut yang dikenakan penari. Celana berwarna merah menyimbolkan keberanian dari rakyat Maluku dalam menghadapi perang.

Pedang atau parang pada tangan kanan menyimbolkan harga mati dari harga diri penduduk Maluku. Tameng (salawaku) menyimbolkan protes terhadap sistem pemerintahan yang tidak memihak kepada rakyat.

Tarian ini biasanya diiringi dengan alunan musik yang berasal dari perpaduan antara tifa (kendang khas Maluku), suling, dan bia (suling khas Maluku yang terbuat dari kerang besar).

Menurut WikiPedia

Cakalele adalah tarian perang tradisional Maluku yang digunakan untuk menyambut tamu ataupun dalam perayaan adat.

Biasanya, tarian ini dibawakan oleh 30 pria dan wanita. Tarian ini dilakukan secara berpasangan dengan iringan musik drum, flute, bia (sejenis musik tiup).

Para penari pria biasanya mengenakan parang dan salawaku (perisai) sedangkan penari wanita menggunakan lenso (saputangan).

Penari pria mengenakan kostum yang didominasi warna merah dan kuning, serta memakai penutup kepala aluminum yang disisipi dengan bulu putih. Kostum celana merah pada penari pria melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan patriotisme rakyat Maluku.

Pedang atau parang pada tangan kanan penari melambangkan martabat penduduk Maluku yang harus dijaga sampai mati, sedangkan perisai dan teriakan keras para penari melambangkan gerakan protes melawan sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak pada rakyat.

Sumber lain menyatakan bahwa tarian ini merupakan penghormatan atas nenek moyang bangsa Maluku yang merupakan pelaut.

Sebelum mengarungi lautan, nenek moyang mereka mengadakan pesta dengan makan, minum, dan berdansa. Saat Tari Cakalele ditampilkan, terkadang arwah nenek moyang dapat memasuki penari dan kehadiran arwah tersebut dapat dirasakan oleh penduduk asli.

Tarian Orlapei Maluku

tarian maluku
sholehuddin.com

Tarian orlapei adalah tarian penyambutan untuk tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke negeri di Maluku. Di Maluku sebutan negeri biasanya dipakai untuk menyebut desa/kampung, seperti Negeri Lima atau Desa Lima.

Tarian orlapei adalah wujud dari dari rasa terima kasih dan kegembiraan seluruh masyarakat suatu negeri atas kedatangan tamu yang telah berkenan menginjakkan kaki ke tanah Maluku.

Tarian ini diiringi dengan lantunan irama dari tifa, suling bambu, ukulele dan gitar. Lantunan irama alat musik dan lincahnya gerakan dari penari diharapkan dapat mampu menyampaikan rasa terima kasih dari para penduduk kepada tamu kehormatan tersebut.

Penari dalam tarian ini terdiri dari pria dan wanita. Biasanya, tarian ini dibawakan oleh muda-mudi Maluku. Gerakan tari yang begitu serasi, energik dan dinamis dapat memperlihatkan aura persahabatan, perdamaian dan kebersamaan yang menjadi simbol dari ketulusan hati dari para penduduk negeri.

Menurut indonesia.org

Tarian orlapei Merupakan daerah Maluku, tarian Orlapei adalah tarian penyambutan untuk tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke negeri di Maluku.

Tarian Orlapei wujud dari dari rasa terima kasih dan kegembiraan seluruh masyarakat suatu negeri atas kedatangan tamu yang telah berkenan menginjakkan kaki ke tanah Maluku.

Dalam pertunjukkannya, Tarian ini diiringi dengan lantunan irama dari Tifa, Suling Bambu, Ukulele dan Gitar. Lantunan irama alat musik tradisional dan mahirnya gerakan penari diharapkan dapat mampu menyampaikan rasa terima kasih dari para penduduk kepada tamu kehormatan tersebut.

Tarian Katreji Maluku

tari-lenso
sholehuddin.com

Tari katreji atau tari pergaulan, biasanya tarian ini ditampilkan pada upacara-upacara pelantikan pemimpin (Kepala Desa, Gubernur dan Bupati).

Tarian ini konon menurut sejarah, merupakan sebuah artikulasi dan perpaduan dua budaya yaitu budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku.

Perpaduan tersebut nampak dari penyampaian aba-aba yang masih menggunakan bahasa Belanda dan Portugis dalam perubahan pola lantai ataupun gerakan dalam tarian.

Hal ini disebut sebagai proses perpaduan budaya. Seiring dengan perkembangannya, tarian ini kemudian menjadi suatu budaya yang hampir di setiap upacara-upacara atau pun pesta rakyat selalu ditampilkan.

Tarian ini diiringi oleh perpaduan irama dari biola, ukulele, suling bambu, gitar, tifa dan bas. Alunan musiknya masih lebih menonjol ke arah musik Eropa.

Walaupun demikian, tarian ini masih digemari oleh masyarakat Maluku, dan dianggap sebagai bagian dari budaya.

Menurut WikiPedia

Tari Katreji adalah salah satu tarian tradisional asal Provinsi Maluku. Tarian yang dilakukan berpasangan antara wanita dan pria ini sangat terkenal dan sering ditampilkan pada acara-acara perayaan hari besar, penyambutan tamu maupun pernikahan adat dan pentas seni di sekolah-sekolah.

Makna dari tarian ini sendiri adalah sebagai tarian pergaulan masyarakat terutama para muda-mudi. Tarian ini ditampilkan dengan eksepresi dan nuansa yang ceria serta bersemangat.

Tarian Bambu Gila Maluku

bambu gila
sholehuddin.com

Bambu Gila, tarian ini agak sedikit memiliki aura horror/mistis. Jelas saja, konon disebut tarian bambu gila karena mampu membuat penarinya seperti sedang mabuk melangkah tak tentu arah. Tarian ini menggunakan batang bambu sebagai fokus utama dalam tarian.

Tarian ini biasanya dimainkan oleh para lelaki, selain penari tarian ini juga terdiri atas seorang pawang. Cara menarinya cukup sederhana, para penari hanya kan memeluk/mendekap batang bambu, setelah bambu dipeluk oleh penari, sang pawang mulai membacakan mantra.

Setelah itu, sang pawang meniupkan asap kemenyan ke dalam lubang pada ujung-ujung batang bambu lalu berteriak menyerukan kata “Gila” sebanyak tiga kali.

Setelah itu, dengan sendirinya bambu akan berguncang tak tentu arah hingga membuat penari-penari yang memeluk terlihat seperti sedang mabuk.

Alunan musik dari tifa baru akan dimulai setelah bambu mengguncang para penari. Penari harus mengeluarkan tenaga mereka untuk mengendalikan bambu.

Proses pengendalian membuat penari bergerak tak tentu arah sehingga nampak seperti orang gila. Guncangan baru bisa berhenti setelah sang pawang membacakan mantra untuk memberhentikannya.

Menurut WikiPedia

Bambu Gila adalah salah satu permainan rakyat Maluku. Pelaksanaannya memerlukan tujuh orang dengan seorang pawang yang membacakan mantra.

Bambu Gila telah dikenal sejak masyarakat Maluku masih menganut animisme dan dinamisme. Selain sebagai permainan rakyat, Bambu Gila juga digunakan untuk memindahkan kapal saat melawan musuh dalam peperangan.

 

Komen Lurr