Tarian Tradisional Aceh

11 min read

Tarian tradisional aceh

Tarian Tradisional Aceh – Seperti halnya kota dan provinsi lain di Indonesia, Aceh juga memiliki produk budaya berupa kesenian. Salah satunya adalah tarian tradisional Aceh.

Aceh tidak hanya terkenal sebagai kota wisata dan kulinernya. Tetapi juga tarian tradisional Aceh.

Tarian tradisional Aceh berkembang secara turun-temurun dan menjadikannya semacam ciri khas atau identitas budaya bagi masyarakat Aceh.

Banyak orang yang hanya mengetahui tari Saman saja, padahal tarian tradisional Aceh banyak macamnya dan memiliki sejarah tersendiri.

Tarian Aceh merupakan salah satu tarian yang menonjol dari tari-tarian lain di Indonesia. Beberapa tarian Aceh tidak hanya dikenal di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Sebut saja Tari Saman, Tari Seudati, Tari Laweut, dan tarian populer lain dari Aceh. Secara garis besar, tarian daerah Aceh memiliki ciri seperti: sarat dengan nilai Islam, melibatkan banyak orang, dan terdiri dari serangkaian pengulangan gerak serupa yang rancak.

Tarian Tradisional Aceh Terpopuler

Tarian tradisional aceh (1)
sholehuddin.com

Indonesia memiliki budaya yang sangat banyak sekali, hampir seluruh wilayah memiliki ciri khas masing-masing.

Seperti halnya di Aceh yang memiliki berbagai macam budaya berupa kesenian. Salah satu kesenian yang cukup terkenal dari Aceh adalah tari Saman.

Selain tari Saman, masih banyak tarian tradisional Aceh lainnya, mari simak dibawah ini beberapa tarian tradisional Aceh.

Tari Saman Aceh

Tari_Saman
sholehuddin.com

Tari Saman kental dengan nuansa Islam dan termasuk di antara kesenian tradisional Indonesia yang telah mendunia. Tari Saman berasal dari Provinsi Aceh Tenggara dan merupakan tarian asli suku Gayo di dataran tinggi Gayo.

Pada tahun 2011 UNESCO menetapkan tarian ini sebagai Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Tari Saman berasal dari akar-akar budaya campuran yang biasa ditampilkan dalam perayaan adat dan dipertunjukkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pada 24 November 2011, tarian tersebut resmi ditetapkan dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh UNESCO di Bali.

Penari tari saman akan mengenakan pakaian khusus berwarna-warni. Selama tari saman dipentaskan, penari akan membentuk format pola lantai yang khas.

Dalam melakukan tarian, penari harus berbaris membentuk garis lurus ke samping. Makna dari tarian ini adalah manusia merupakan makhluk sosial sehingga membutuhkan manusia lain.

Pola duduk dengan kaki yang bertumpu seperti duduk di antara dua sujud juga melambangkan umat Islam yang sedang membentuk syaff ketika sedang melakukan sholat.

Tari Seudati Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Buat yang belum tahu, Tari Seudati berasal dari Aceh, khususnya Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Utara. Dulunya tarian ini bernama Ratoh yang berarti penceritaan tentang apa saja yang berhubungan dengan aspek sosial-kemasyarakatan.

Riwayat Tari Seudati berasal dari berasal dari Shahadatayn (dua kalimat syahadat). Tarian ini adalah media dakwah yang disampaikan dengan keindahan dan gerakan kompak.

Ciri khasnya berupa gerakan gembira serta menggambarkan kebersamaan dimana seluruh bagian tubuh para penari bergerak ketika menarikannya.

Sebuah tarian agresif yang dibawakan oleh 8 penari yang masing-masing diberi jabatan tersendiri. Tari Seudati berasal dari salah satu kekayaan budaya kita dan sudah terkenal tidak hanya di dalam negeri, namun juga di mancanegara seperti halnya Tari Saman.

Tarian tradisional Aceh ini memiliki suatu keunikan, yaitu dibawakan tanpa iringan alat musik apapun. Sebagai pengiring, ada lantunan syair dari aneuk syahi.

Tari Seudati berasal dari bahasa Arab ‘Syahadat’, yang artinya bersaksi atau pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah dalam Islam.

Ada juga yang mengatakan bahwa Seudati berasal dari kata ‘Seurasi’ yang berarti harmonis atau kompak.

Berdasarkan sejarahnya, tarian ini mengisahkan berbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat Aceh tahu cara menyelesaikannya bersama-sama.

Awalnya, tarian Seudati dikenal sebagai tarian pesisir yang disebut Ratoh atau Ratoih. Artinya menceritakan untuk mengawali permainan atau diperagakan untuk bersuka ria saat musim panen atau malam bulan purnama.

Saat pentas, penari Seudati memakai baju berwarna putih dipadu dengan celana panjang. Sedangkan aksesorisnya terdiri dari kain songket yang dililitkan di pinggang hingga paha.

Penari juga dilengkapi Rencong di bagian pinggang dan Tangkulok (ikat kepala) berwarna merah yang menjadi ciri khas tari Seudati.

Tari Tarek Pukat Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Tarek Pukat terinspirasi dari budaya masyarakat pesisir Aceh, yakni Tarek Pukat. Tarek Pukat adalah tradisi menangkap ikan dengan jalan dan bergotong-royong.

7 penari perempuan berbusana tradisional Aceh. akan menari sambil membawa instrumen pelengkap berupa tali sebagai simbol jala atau yang dalam bahasa Aceh disebut pukat.

Tari Tarek Pukat terinspirasi dari tradisi menarek pukat atau menarik jala yang dilakukan masyarakat Aceh, khususnya di daerah pesisir.

Tarian tradisional Aceh ini menggambarkan tentang aktivitas para nelayan Aceh saat menangkap ikan di laut. Umumnya, tari Tarek Pukat ditampilkan dalam berbagai acara, seperti upacara penyambutan, acara adat, dan acara budaya.

Dalam pertunjukannya, penari menggunakan busana tradisional serta dihias dengan hiasan dan tata rias yang membuatnya terlihat cantik.

Dengan diiringi kelompok pengiring, penari menari dengan gerakannya yang khas dan menggunakan tali sebagai atributnya.

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan tari ini biasanya merupakan busana tradisional.

Para penari biasanya menggunakan pakaian seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan kerudung pada bagian kepala.

Selain itu penari juga menggunakan kain songket dan sabuk pada bagian pinggang serta hiasan kerudung sebagai pemanisnya.

Tari Likok Pulo Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Likok Pulo berasal dari daerah Aceh Besar di ujung pelosok utara Pulau Sumatera. Terdiri dari 10-12 penari yang membawakan tarian ini dilengkapi properti bambu seukuran jari telunjuk.

Penari akan duduk memanjang dengan posisi selang seling atas bawah. Setiap gerakan menyimbolkan nasehat-nasehat yang disampaikan melalui syair oleh penari utama yang biasa disebut Syekh.

Tari Likok Pulo diciptakan sekitar tahun 1849 oleh seorang pedagang sekaligus ulama asal Arab bernama Syeh Ahmad Badron.

Secara bahasa tarian tradisional Aceh ini berasal dari dua kata yakni ‘Likok’ yang bermakna ‘gerak tari’ dan ‘Pulo’ yang berarti ‘pulau’.

Pulau yang dimaksudkan adalah sebuah pulau kecil yang terdapat di ujung pelosok utara pulau Sumatra yang kerap disebut sebagai Pulau Beras (Breuh).

Secara historis, tari tersebut biasanya digelar sesudah menanam padi atau masa menjelang panen tiba. Tarian ini juga disertai dengan pemukulan rapa’i atau alat musik untuk mengatur gerakan tari.

Para penari juga dilengkapi dengan properti bambu (Boh Likok).

Tari Laweut Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Laweut merupakan ragam tarian tradisional Aceh, yang berasal dari Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Tarian ini menyebar ke seantero Aceh dan menjadi salah satu tarian populer bersama Tari Saman dan Tari Seudati seiring berjalannya waktu.

Tari Laweut yang dulunya bernama Seudati Inong ini merupakan Tari Seudati versi perempuan. Keduanya memiliki banyak kesamaan berupa gerakan dan pola tarian, proses serta tehniknya.

Tak hanya itu, kedua tari juga sama-sama melibatkan 8 penari dengan 1 syahi (penyanyi) yang sekaligus memimpin tarian.

Tari Laweut berasal dari kata Selawat, yaitu berupa sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Syair-syair yang mengiringi tarian ini memang ludang kecepeh banyak bershalawat atas nabi.

Fungsi utama tarian ini, yaitu sebagai media dakwah yang memberikan pengetahuan tentang agama Islam.

Tari Laweut ini diiringi dengan suara yang berasal dari badan penari itu sendiri, menyerupai tepukan dada, norma dan sopan santun jari, tepukan tangan, hentakan kaki dan vokal syahi yang menyanyikan syair dari tarian ini.

Syair-syair tersebut mengandung pesan-pesan tersendiri mengenai keimanan, pembangunan, kemasyarakatan, dan lain-lain.

Tari Retoh Duwek

tarian aceh
sholehuddin.com

Tarian Aceh lainnya ada Ratoh Duek, salah satu tari daerah Aceh yang identik dengan Tari Saman. Keduanya terlihat sama tapi tetap memiliki perbedaan.

Sejak Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia, tarian itu hanya boleh ditarikan oleh laki-laki berjumlah ganjil.

Sementara Tari Ratoh Duek dibawakan oleh penari wanita berjumlah genap dan perbedaan lainnya adalah busana. Penari Saman mengenakan pakaian adat Suku Gayo, sedangkan penari Ratok Duek menggunakan pakaian polos berwarna dipadu dengan kain songket Aceh.

Ratoh Duek juga populer di luar Aceh dan tak heran jika sering ditampilkan di dalam dan luar negeri. Para penari akan duduk berbanjar dengan pola lantai yang tidak banyak memiliki perubahan, yakni hanya berbentuk horisontal, zig zag. Selain itu para penarinya semuanya wanita berjumlah genap 8-12 orang.

Tari Ratoh Duek merupakan tari tradisional dari Provinsi Aceh. Kata ratoh berasal dari Bahasa Arab rateeb, yang artinya kegiatan berdoa atau berdzikir yang di iramakan.

Tarian tradisional Aceh ini menggambarkan semangat dan kebersamaan masyarakat Aceh. Harmoni antara syair dan tepukan berirama para penari mengungkapkan kekompakkan masyarakat Aceh dalam kegiatan sehari-hari.

Tari Ratoh Duek tidak mengenakan properti tari apapun.

Kostum yang digunakan adalah baju khas Aceh yang telah dimodifikasi, yaitu pakaian polos yang dipadukan dengan kain songket Aceh, serta hiasan kepala dan ikat pinggang.

Tari Bines Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Bines juga merupakan salah satu ragam kesenian suku Gayo dan bagi masyarakat Gayo Lues, Tari Bines merupakan belahan jiwa Tari Saman.

Leluhur Gayo menciptakan Tari Bines sebagai pengganti Tari Saman yang pada zaman dulu dianggap terlalu keras gerakannya sehingga tak bisa dibawakan oleh wanita.

Biasanya Tari Bines ditampilkan pada jeda penampilan satu grup saman dengan grup yang lainnya. Keberadaannya tari ini yang lebih berfungsi sebagai pelengkap membuatnya tidak sepopuler Tari Saman.

Tari Bines bermula dari kesenian tradisi yang disebut “piasan” yang dikemudian hari dijadikan salah satu sarana dakwah Islam. Sebagai kesenian yang lahir dalam kehidupan masyarakat tradisional, awalnya tari ini bersifat sakral dan hanya ditampilkan dalam upacara adat saja.

Dahulu perempuan di Gayo Lues tidak diizinkan menarikan tari Saman karena sifatnya terlampau keras, kencang disertai dengan gerakan memukul-mukul dada. Oleh karena itu para leluhur menciptakan jenis tarian lain yang dianggap layak untuk ditarikan oleh para perempuan.

Hal yang menarik lainnya adalah najuk atau pemberian uang kertas yang dijepit menggunakan lidi dan diselipkan di sempol atau sanggul para penari. Tradisi tradisional Aceh ini adalah bentuk penghargaan atau apresiasi penonton kepada penari Bines.

Rateb Meuseukat

tarian aceh
sholehuddin.com

Tarian ini tumbuh sebagai tari yang hanya dibawakan oleh perempuan saja. Jumlah penari yang tak terbatas dan minimal 10 orang, dipimpin oleh seorang syeh. Sumber lain menyebut jika pemainnya 13 orang, berjumlah ganjil tidak boleh kurang dari 10 penari.

Tari Ratéb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu ratéb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.

Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh Wan Rakibah anak perempuan dari ulama besar yaitu Al Qutb Wujud Habib Abdurrahim bin Sayid Abdul Qadir Al-Qadiri Al-Jailani yang dikenal dengan Habib Seunagan.

(Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX.

Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.

Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah.

Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.

Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya.

Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman dari suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas. Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh.

Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang.

Keterkenalan tarian ini seperti saat ini tidak lepas dari peran salah seorang tokoh yang memperkenalkan tarian ini di pulau Jawa yaitu Marzuki Hasan atau biasa disapa Pak Uki.

Tari Guel Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Guel merupakan tarian khas Aceh yang patut kamu ketahui dan berasal di daerah dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Tarian ini bisa difungsikan sebagai hiburan dan erat kaitannya dengan upacara adat.

Istilah Guel punya arti membunyikan atau memukul suatu benda hingga menimbulkan suara. Tarian ini terinspirasi dari harmoni alam dan lingkungan yang dirangkai melalui gerak simbolis dan hentakan irama.

Tari Guel mengandung berbagai unsur sastra, musik, seni, dan tari yang berpadu harmonis dan sarat akan makna, khususnya sehubungan dengan sejarah Gayo.

Tarian tradisional Aceh ini merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari budaya masyarakat Gayo di Aceh. Tari Guel memiliki gerakan yang sangat khas dan penuh makna, bahkan terkesan bernuansa mistis.

Tarian ini awalnya lebih difungsikan sebagai tarian upacara adat tertentu di kalangan masyarakat Gayo, baik secara ritual adat maupun perayaan adat. Bagi masyarakat Gayo, tarian ini bukan sekedar tarian biasa. Tetapi, memiliki nilai dan filosofi kebudayaan mereka.

Rapai Geleng Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Rapai Geleng tergolong satu di antara tarian Daerah Aceh yang digunakan sebagai media dakwah. Rapai Geleng memiliki muata nilai-nilai Islam di setiap bagiannya, termasuk syair, busana dan gerakannya.

Tak hanya itu, tarian ini menyimbolkan sikap hidup Suku Aceh yang sarat nilai kekompakan dan kebersamaan dalam bermasyarakat.

Tarian ini tergolong yang paling populer dan digemari oleh masyarakat Aceh. Pasalnya setiap pertunjukannya selalu dipadati penonton. Daya tarik tarian Aceh ini ada pada keindahan gerak dan syair yang menyertainya, sangat menghibur mata dan telinga

Tarian Rapai Geleng berasal dari daerah Manggeng di Aceh Barat Daya.

Tarian tradisional Aceh ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral untuk masyarakat. Syair yang digunakan merupakan lagu-lagu keagamaan.

Nama geleng sendiri diambil dari gerakan penarinya yang menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan kiri dengan berirama dan sangat kompak.

Sedangkan kata rapai diambil dari nama alat musik yang menyerupai gendang yang dimainkan oleh penari. Saat ini alat musik rapai lebih dikenal dengan nama rebana.

Tari Ratoh Jaroe Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tari Ratoh Jaroe merupakan tari kreasi atau tarian pendatang baru karya seorang seniman asal Aceh yakni Yusri Saleh atau biasa disapa dengan sebutan Dek Gam saat ia merantau ke jakarta pada tahun 2000-an.

Disebut sebagai tari kreasi, karena di dalam gerakan tari Ratoh Jaroe terdapat gabungan dari gerakan-gerakan yang berasal dari tarian tradisional asal Aceh lainnya yakni seperti tari Ratoh Duek, Rateb Meusekat, Rapai Geleng, dan Likok Pulo.

Pada saat Dek Gam merantau ke ibu kota, ia membawa sebuah alat musik yang bernama Rapai, oleh sebab itu, dalam tari kreasi Ratoh Jaroe juga dikreasikan dengan alat musik Rapai sebagai pengiring tarian

Gerakan-gerakan yang ada pada tari Ratoh Jaroe sendiri didominasi oleh gerakan tangan dan dimainkan oleh penari perempuan dalam jumlah genap seperti pada pembukaan Asian Games 2018 terdapat 1600 siswi SMA penari Ratoh Jaroe.

Hal tersebut merupakan perwujudan dari nama tari Ratoh Jaroe sendiri yang mana memiliki arti berdzikir atau mengingat Allah SWT melalui gerakan tangan.

Tarian ini terdiri dari gerakan dalam posisi duduk, berlutut, membungkukkan badan, menepuk dada, menggelengkan kepala, menggerakkan tangan ke kanan dan kiri, serta gerakan lainnya yang sekilas mirip dengan tari Saman.

Penampilan para penari tari Ratoh Jaroe biasanya menggunkaan kostum polos yang kebanyakan berwarna merah, kuning dan hijau dengan kombinasi tenun khas Aceh untuk menghiasi bagian depan kostum.

Selain tenun khas Aceh, songket khas Aceh juga dikenakan oleh para penari tari Ratoh Jaroe yang dipasangkan dengan kostum yang berwarna cerah.

Sebagai salah satu daerah yang mengedepankan syariat Islam, para penari tari Ratoh Jaroe juga mengenakan hijab atau kerudung selama menari yang dilengkapi dengan ikat kepala.

Kini, tari Ratoh Jaroe menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler hingga unit kegiatan mahasiswa di berbagai kampus dan memiliki banyak peminat.

Sudah sepatutnya, sebagai generasi muda untuk tidak melupakan ragam kebudayaan yang dimiliki Indonesia, salah satunya adalah dengan mempelajari dan melestarikan budaya tersebut.

Uniknya, Tari Ratoh Jaroe tumbuh dan berkembang di Jakarta dan merupakan kreasi seniman Aceh bernama Yusri yang merantau ke Jakarta pada tahun 1999. Koreografer yang biasa dipanggil Dek Gam ini mengembangkannya pada tahun 2000-2001 saat menjadi pelatih tari di salah satu SMA di Jakarta.

Tari Ratoh Jaroe senantiasa berkembang hingga dimasukkan dalam mata pelajaran ekstrakurikuler favorit di setiap sekolah di ibukota Jakarta. Tarian urban ini menjadi populer terlebih saat mengiringi upacara pembukaan Asian Games 2018.

Tari Didong Aceh

tarian aceh
sholehuddin.com

Tarian Aceh terakhir ada Tari Didong yang menyatukan beberapa unsur seperti tari, vokal dan sastra. Kata Didong memiliki arti ‘nyanyian sambil bekerja’, tapi ada pula yang berpendapat jikadidong berasal dari suara musik yang seolah-olah mengatakan ‘din’ dan ‘dong’.

Tari ini memiliki gerakan duduk dan bermain dengan kedua tangan. Selanjutnya penari akan menyanyikan sebuah lagu, dan menepakkan tangan dengan ketukan yang berbeda seperti Tari Kecak.

Tari Didong tidak menggunakan alat musik latar dan penarinya akan mengeluarkan nada-nada seperti musik dari mulutnya. Biasanya tari ini dipentaskan jika ada acara keagamaan, dan sebagai ajang hiburan.

Itulah 12 tarian Aceh paling populer yang patut kamu ketahui. Masing-masing tari menyimpan khasanah budaya dan memiliki gerakan khas yang unik dan menarik.

Menurut WikiPedia

Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya.

Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan.

Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.

Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini.

Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang.

Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara.

Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, masjid, bahkan juga pembangunan jembatan.

Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.

Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Sholehuddin.com

Komen Lurr