Rumah Adat Sulawesi Selatan Suku Bugis, Toraja, Makassar, Luwuk Dan Mandar

10 min read

Rumah adat sulawesi selatan

Rumah Adat Suku Bugis – Kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, dan adat istiadat negeri Indonesia memang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas.

Salah satu bentuk kekayaan budaya Indonesia tercermin dari beragam bentuk rumah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Selain memiliki bentuk dan struktur yang beragam, rumah adat Indonesia menyimpan cerita dan filosofi kehidupan masyarakat.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah rumah adat di provinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki lima jenis rumah adat. Uniknya, rumah adat Sulawesi Selatan berbentuk rumah panggung dengan ketinggian mencapai tiga meter.

Sama halnya dengan berbagai suku lainnya nusantara, Suku Bugis Makassar juga mempunyai pandangan sendiri terhadap nilai-nilai estetis dan filosofis yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Hal tersebut salah satunya tercermin dari cara masyarakat Bugis Makassar dalam membangun rumah. Rumah masyarakat Bugis menyerupai anatomi tubuh manusia dan menempati area persegi, yang mereka percayai sebagai alam semesta (sulapak appak).

Anatomi rumah tradisional Suku Bugis Makassar terinspirasi tiga bagian tubuh manusia yang terdiri dari bagian bawah (siring atau kolong), dunia bagian tengah (kale balla atau badan rumah), dan dunia bagian atas (pammakkang atau loteng).

Siring atau kolong dianalogikan sebagai tempat kotor dan hina karena berada di bagian paling bawah rumah. Pada umumnya, bagian ini difungsikan oleh masyarakat tradisional untuk menyimpan ternak dan alat-alat bertani atau melaut.

Tapi pada masa dulu, bagian ini oleh para bangsawan difungsikan sebagai tempat tinggal budak atau tempat menahan tahanan kerajaan.

Kale balla, yang dalam bahasa Makassar berarti inti rumah, merupakan tempat kegiatan para penghuni berlangsung. Di bagian inilah proses perencanaan dan tata kelola kehidupan berada. Kale balla bisa terdiri dari berbagai petak. Bagi masyarakat kelas menengah, petak pada kalle balla dibatasi hanya tiga, yaitu ruang depan, tengah, dan belakang.

Sementara, pammakang merupakan bagian atas dari rumah. Dalam bahasa Makassar, pammakang berarti sesuatu hal yang menyenangkan. Bagian ini umumnya digunakan untuk menyimpan hasil panen serta benda-benda kerajinan seperti tikar dan alat-alat tenun.

Secara ideologis, pammakkang bisa bermakna sesuatu yang sakral dan mengandung nilai-nilai spiritual karena menempati posisi yang paling tinggi dari bagian rumah.

Selain bagian yang ada pada suatu rumah, struktur bangunan rumah Suku Bugis Makassar pun menunjukkan stratifikasi sosial orang yang menempatinya.

Hal tersebut terlihat dari jumlah susunan timba silla/tambulayang. Semakin banyak susunan timba silla, menunjukkan semakin tinggi derajat orang yang menempati rumah tersebut.

Susunan timba silla terbagi dalam lima jenis, yaitu timba silla lanta’ lima (5 susun). Susunan ini khusus digunakan untuk istana raja.

Tamba silla lanta’ appa (4 susun), yang biasa diperuntukkan bagi kalangan karaeng atau bangsawan. Tamba silla lanta’ tallu (3 susun), yang khusus digunakan oleh keturunan karaeng.

Tamba silla lanta’ rua (2 susun), yang biasa digunakan oleh masyarakat umum. Yang terakhir, timba silla lanta’ se’re (1 susun). Susun seperti ini biasa digunakan oleh kalangan hamba sahaya.

Nah, saya akan menulis tentang artikel rumah adat suku Sulawesi Selatan seperti suku:

  • Suku Toraja
  • Suku Makassar
  • Suku Bugis
  • Suku Luwuk
  • Suku Mandar

Rumah Adat Sulawesi Selatan Suku Bugis

Rumah adat sulawesi selatan
sholehuddin.com

Tidak seperti kebanyakan jenis rumah adat yang ada di Indonesia lainnya, Bugis memiliki macam bentuk dan nama sesuai dengan tingkatan sosial pemiliknya.

Fakta ini menjadi satu yang unik dan jarang diketahui oleh orang banyak. Dua bentuk rumah tersebut diataranya adalah Saroraja (Salassa) dan Bola, dimana keduanya memiliki desain serta ukuran berbeda.

Bugis dan Makassar sering digabungkan karena kesamaan budaya antara keduanya. Begitu juga dengan rumah adat dan ritual-ritual yang berkenaan dengan rumah.

Rumah khas Bugis ini disebut juga rumah panggung kayu. Rumahnya memiliki ciri khas atap berbentuk pelana, serta memiliki timpalaja dengan jumlah tertentu sesuai simbol status sosial.

Karakteristik Rumah Suku Bugis

Karakter khas rumah Bugis–Makassar adalah berbentuk panggung dan disebut juga rumah panggung kayu. Rumah adat ini memiliki ciri khas atap yang berbentuk pelana dan memiliki timpalaja dengan jumlah tertentu sebagai simbol status sosial. Timpalaja atau disebut gevel (gable) merupakan bidang segitiga antara dinding dan pertemuan atap.

Alliri

Aliri merupakan salah satu bagian rumah adat bugis yang berupa tiang utama. Jumlah umum yang ada di bagian strukturnya yaitu berkisar antara 3 baris sampai dengan 4 baris.

Setiap barisnya menggunakan sekitar 4 batang dari aliri. Sehingga jika ditotalkan terhadap 3 baris maka terdapat sekitar 12 batang aliri sebagai bagian dari bangunan tersebut.

Sedangkan pada penggunaannya difungsikan untuk menopang bagian dari bangunan rumah serta atapnya agar kuat dan menyatu.

Penempatannya akan dilakukan dengan menanamnya di atas tumpuan tanah. Namun, saat ini posisinya ditempatkan hanya dengan menumpuknya di atas sebuah pondasi batu.

Arateng dan Ware

Bagian penting selanjutnya bernama Arateng, yang berarti penyangga lantai. Bentuk dari penampakannya yaitu seperti sebuah balok berbentuk gepeng atau pipih.

Keberadaannya difungsikan dalam menghubungkan sebuah panjang dari rangka bangunan rumah tersebut. Penempatannya dilakukan dengan memasang di bagian yang sudah dibuatkan lobang di bagian tiang berbentuk persegi.

Sedang untuk ware sendiri secara fungsional memiliki fungsi yang sama dengan Arateng. Namun, penempatannya berbeda yaitu di bagian tengah untuk menyangga loteng.

Pada pemasangannya biasanya dilakukan dengan cara mengikatnya dengan penyangga lainya, dan tidak lagi disisipkan di tiang.

Lotang Risaliweng

Lotang Risaliweng merupakan sebutan untuk bagian rumah yang letaknya berada di bagian dalam dan berlokasi tepat di depan rumah.

Bagian ini biasanya dijadikan sebagai sebuah area untuk menjamu tamu yang datang berkunjung dan juga sebagai tempat untuk tidur saat menginap.

Selain difungsikan sebagai area ruang tamu dan kamar tamu, juga dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan benih yang akan disemai pada masanya. Bahkan pada satu waktu juga dijadikan tempat untuk menyimpan mayat dari keluarga sebelum disemayamkan di tempat pemakaman.

Itulah beberapa ulasan singkat yang menjelaskan mengenai berbagai hal menarik dari keberadaan rumah adat bugis. Mulai dari karakteristik dan faktanya, keunikan, serta berbagai pemaknaan filosofi dan juga pembagian ruangnya.

Makna filosofis rumah Bugis

Ada tiga bagian yang dimiliki oleh rumah adat Bugis dan mengandung makna filosofis, yaitu:

  • Bonting langiq merupakan bagian atap rumah yang diberi rongga. Ini adalah lambang perkawinan di atas langit, yang dilakukan We Tenriabeng, saudari kembar Sawerigading yang merupakan permaisuri dari Remmang ri Langi alias Hutontalangi (Raja pertama Gorontalo).
  • Ale Kawaq adalah bagian tengah atau area pemilik rumah untuk tinggal. Bagian ini menggambarkan kondisi dari bumi pertiwi.
  • Buri Liu adalah bagian bawah atau kolong rumah dan merupakan lambang dunia bawah tanah dan laut. Dahulu bagian ini digunakan sebagai tempat memelihara

Filosofi Dari Rumah Adat Bugis

Makrokosmos (Tiga Tingkatan Alam)

Rumah Adat selain difungsikan sebagai tempat untuk tinggal oleh masyarakatnya juga memiliki nilai filosofis yang dijadikan acuan desain.

Bahkan bagi orang bugis, rumah merupakan sebuah objek yang menentukan kelangsungan hidupnya dari segi pandangan kosmis. Pembangunannya juga didasarkan pada pembuat desain yang dipengaruhi oleh pemahaman atas simbol kosmis.

Makrokosmos merupakan simbol yang dijadikan acuan utama dalam struktur bangunan rumah adat bugis. Dimana pembagiannya disesuaikan dengan tingkatan kehidupan di dunia ini yaitu, alam atas Boting Langi, Ale kawa atau alam tengah, dan juga Uri Liu yang berupa alam bawah.

Bonting langi adalah bagian yang terletak di struktur atas bangunan dari rumah adat suku Bugis, tepatnya yaitu pada atap. Pemasangan serta pembuatan desainnya dibuat ada rongga dengan pemaknaan filosofis.

Untuk makna yang dimaksudkan dalam penggambaran ini adalah sebuah perkawinan di atas langit oleh We Tenriabeng saudara dari permaisuri Raja pertama Gorontalo.

Sedangkan untuk simbol Ale Kawa pada strukturnya menjadi satu simbol atas area tengah dari pemilik rumah yang digunakan untuk tinggal.

Pada pemaknaannya secara filosfis ingin menggambarkan bagaimana bentuk kehidupan yang ada di Bumi Pertiwi atau alam Manusia pada umumnya.

Buri Liu merupakan sebuah tingkatan bagian bawah yang melambangkan kehidupan bawah tanah dan juga laut. Dimana penempatannya berada di area kolong Rumah.

Pada fungsi penggunaanya biasanya digunakan untuk tempat menempatkan hewan peliharaan atau barang lain dari sang pemilik Rumah.

Empat Sisi (Sulapa Eppa)

Keberadaan akan pemaknaan simbolis yang ada di bagian struktur bangunan Rumah Adat Bugis menjadi satu acuan untuk mengukur kesempurnaan pada seseorang.

Sehingga terlihat jelas bagaimana. pengelompokan sosial kemudian juga menjadi landasan utama pembangunan jenis rumah tinggalnya. Hal-hal yang dimaksudkan dinilai dari status keberanian, kecantikan, kekayaan, ketampanan dan keturunan.

Konsep Sutappa Eppa menjadi satu representasi dari kesempurnaan yang dimiliki oleh alam tengah atau tempat tinggal makhluk hidup.

Dimana pada pandangan ini dikatakan bahwa kesempurnaan dibagi atas empat sisi yaitu penjuru mata angin, utara, barat, timur, dan juga selatan. Pada pemaknaan khusus bahwa terdapat empat unsur duniawi yang mempengaruhinya yaitu api, tanah, air, dan juga angin.

Konsep ini juga menjadi sebuah andasan bagi masyarakat Bugis pada zaman dahulu dalam memahami pola alam semesta secara umum.

Sehingga bisa mendapatkan sebuah kesempurnaan diri dengan melakukan pengenalan dan pencarian cara dalam mengatasi manusia pada kehidupan ini.

Perbedaan Rumah Suku Bugis

Rumah panggung kayu dibagi lagi menjadi dua jenis berdasarkan status sosial orang yang tinggal di rumah itu. Rumah Saoraja (Sallasa) adalah rumah besar yang merupakan tempat tinggal keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan rumah yang ditempati oleh masyarakat biasa disebut Bola.

Salah satu ciri khas rumah adat Sulawesi Selatan suku Bugis adalah terdapat banyak kamar dengan aneka macam fungsinya.

Rumah Adat Sulawesi Selatan Suku Makassar

Rumah adat sulawesi selatan
sholehuddin.com

Pins, rumah dari suku Makassar di atas diberi nama julukan yaitu Bala. Rumah ini dibagi menjadi tiga bagian rumah yaitu bagian atap, inti rumah, serta kolong. Di bagian depan rumah terdapat tangga yang menjadi akses untuk naik ke lantai atas.

Sementara di bagian bawah rumah masih terdapat kolong panggung, sama seperti rumah adat di Sulawesi Selatan yang lain.

Suku Makassar yang mendiami pesisir barat daya Sulawesi menyebut rumah adat mereka Balla. Dahulu rumah adat ini identik dengan rumah yang digunakan oleh para bangsawan. Yups, kenali karakteristik, perbedaan, dan makna filosofis rumah adat ini.

Karakteristik Rumah Suku Makassar (Balla)

Bangunan rumah adat ini adalah bangunan rumah tradisional dengan model rumah panggung. Dalam arsitekturnya, rumah ini terbagi menjadi tiga yaitu bagian atap, inti rumah, dan kolong.

Hal yang unik dari Balla adalah pada umumnya atap terbuat dari ijuk atau jerami, sedangkan bagian lainnya terbuat dari perpaduan beberapa jenis kayu.

Rumah adat ini bisa dibilang cukup besar dan tinggi, dengan 10 tiang penyangga. Balla memiliki ketinggian hingga 3 meter dan tidak heran jika di dalamnya terdapat beberapa ruangan yang besar.

Ruang teras disebut dego-dego dan ruang tamu disebut paddaserang dallekang yang terletak setelah pintu masuk. Ruang tengah digunakan sebagai ruang keluarga, sedangkan kamar khusus perempuan terdapat di ruang belakang.

Makna filosofis Rumah Balla

Balla juga memiliki makna filosofis dalam arsitekturnya. Misalnya, di puncak atap terdapat segitiga yang disebut timbaksela yang merupakan simbol khusus yang menunjukkan kebangsawanan orang yang tinggal di rumah tersebut.

Timbaksela yang disusun tiga atau lebih menunjukkan bangsawan, sedangkan segitiga yang tidak memiliki susunan adalah tanda masyarakat biasa.

Perbedaan Rumah Suku Makassar (Balla)

Ada dua jenis tangga rumah adat di Makassar, yaitu Sapana dan Tukak. Perbedaannya terletak dari jenis bahan yang digunakan dan jumlah anak tangga.

Sapana menggunakan bambu dengan tiga atau lebih anak tangga yang dianyam, sedangkan Tukak merupakan jenis anak tangga yang terbuat dari kayu. Sapana dikhususkan untuk bangsawan, sedangkan Tukak untuk digunakan masyarakat biasa.

Rumah Adat Sulawesi Selatan Suku Toraja

Rumah adat sulawesi selatan
sholehuddin.com

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Salah satu yang dikenal dari daerah ini adalah rumah adat yang diberi nama Tongkonan.

Rumah adat Tongkonan merupakan bagian yang penting bagi masyarakat karena selain untuk tempat tinggal, Tongkonan juga dijadikan sebagai tempat upacara.

Rumah Tongkonan terdiri atas kata tongkon yang berarti menduduki dan ma’ tongkon yang berarti duduk berkumpul, sehingga diartikan sebagai rumah tempat tinggal penguasa adat dan sebagai tempat berkumpul.

Karakteristik Tongkonan

Dilansir dari Kompas, Tongkonan dibangun dengan konstruksi yang terbuat dari kayu dan didirikan di atas tumpukan kayu. Biasanya material utama Tongkonan adalah kayu Uru yang bisa dijumpai dengan mudah di Sulawesi.

Rumah adat ini dibuat tanpa menggunakan unsur logam, bahkan sebuah paku pun tidak digunakan dalam membangun Tongkonan.

Keunikan lain dari rumah ini adalah ornamen ukiran yang mempercantik Tongkonan didominasi dengan warna merah, hitam, dan kuning.

Atapnya berbentuk seperti perahu telungkup dengan buritan. Ada juga yang mengatakan bentuknya seperti tanduk kerbau.

Berbentuk Rumah Panggung

Rumah adat Sulawesi Selatan yang satu ini merupakan sebuah rumah panggung dengan bentuk persegi panjang. Bagian bawah dari Tongkonan biasa digunakan sebagai kandang kerbau.
Untuk membangun rumah, masyarakat Toraja akan menggunakan kayu uru sebagai tanaman lokal khas Sulawesi. Kayu ini berkualitas baik dan mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Memiliki Atap Layaknya Sebuah Perahu

Atap Rumah Tongkonan merupakan salah satu ciri khas karena berbentuk melengkung dengan kedua atapnya yang menjulang, sehingga mirip dengan perahu dan mudah dikenali.
Atap rumah adat ini terbuat dari tumpukan bilah bambu yang dilapisi alang-alang, ijuk,seng, rumbia ataupun batu.

Mempunyai ornamen kerbau

Tanduk kerbau akan ditemukan pada tiang utama Tongkonan, yang disusun berjajar dari atas ke bawah, sebagai lambang kemampuan ekonomi dan derajat keluarga yang tinggal di dalamnya. Jika tanduk semakin banyak maka semakin tinggi juga status sosial keluarga tersebut.
Tanduk kerbau ini diperoleh dari pengorbanan saat upacara penguburan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Selain tanduk, terdapat juga patung kepala dan rahang kerbau pada sebuah Tongkonan.

Rumah yang berpasangan

Rumah Tongkonan akan selalu memiliki dua bangunan berpasangan dengan posisi yang berhadapan. Satu rumah bernama banua sura’ yang melambangkan seorang ibu yang melindungi anaknya dan satu rumah lain bernama alang sura’ yang melambangkan ayah sebagai tulang punggung keluarga.

Menghadap Utara

Rumah kebanggan dari suku Toraja ini akan selalu menghadap utara karena arah tersebut berhubungan dengan arah sang pencipta, yakni Puang Matua.
Berukir
Tongkonan penuh dengan berbagai ukiran, seperti hewan, tumbuhan, bentuk geometri, benda langit, cerita rakyat dan sebagainya yang ternyata terkandung makna dan nilai kehidupan sebagai falsafah hidup orang Toraja.

Makna filosofis Tongkonan

Tongkonan berasal dari kata “Tongkon” yang memiliki makna menduduki atau tempat duduk. Disebut sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk di dalam Tongkonan untuk berdiskusi.

Di bagian muka rumah Tongkonan dihias dengan dua motif, yaitu ayam jantan (pa’manuk londong) dan pancaran sinar matahari yang bulat (pa’barre allo). Dua ukiran tersebut selalu diletakkan bersama dan keduanya memiliki makna.

Pa’manuk londong mengacu pada kebenaran (katonganan) dan keadilan (sanda salunna). Ayam jantan dapat mengetahui perputaran matahari (untandai allo) dan mengukur siang dan malam (ussuka’ bongi).

Motif pa’barre allo menunjukkan energi dan kekuatan yang dibutuhjan untuk membangun keadilan. Di bawah motif ini terdapat motif pa’daun bolu (daun sirih) yang menjadi bahan persembahan utama dalam acara.

Perbedaan Rumah Suku Toraja Tongkonan

Berikut ini 5 jenis rumah Tongkonan dan perbedaannya.

  • Tongkonan Pa’rapuan merupakan rumah milik keluarga satu warga yang dipimpin oleh orang yang dituakan dalam warga.
  • Tongkonan Kaparengngesan. Renge’ artinya menggendong beban dalam keranjang besar. Tongkonan ini berfungsi sebagai pimpinan adat dan aluk.
  • Tongkonan Pesiok Aluk memiliki fungsi untuk memelihara, membina, dan menyebarkan sukaran aluk (aturan-aturan agama).
  • Tongkonan Layuk atau Tongkonan Kabarasan, merupakan Tongkonan yang menjadi pemimpin yang dibantu Tongkonan Pekamberan atau Pekaindoran (ambe=ayah dan indo’=ibu).
  • Tongkonan Pekamberan atau Pekaindoran berfungsi sebagai penyelenggara pemerintahan adat sesuai dengan kebutuhan wilayah adat tersebut, seperti pertahanan, pertanian, peternakan, logistik, perbintangan, keagamaan, undang-undang, peradilan adat, ataupun mahkamah adat.

Tongkonan yang berfungsi sebagai tempat tinggal juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan upacara adat, perkawinan, pemakaman, dan semua aktivitas upacara ritual. Hingga saat ini rumah adat Tongkonan menjadi daya tarik wisata dan menjadi favorit para wisatawam

Rumah Adat Sulawesi Selatan Suku Mandar

Rumah adat sulawesi selatan
sholehuddin.com

Suku Mandar adalah suku yang menempati wilayah sebagian Sulawesi Selatan dan sebagian Sulawesi Barat. Perayaan adat yang dikenal di daerah ini adalah Sayyang Pattu’du atau kuda menari dan Passandeq atau mengarungi lautan dengan cadik. Seperti apa karakteristik rumah adat suku Mandar yang berbentuk rumah panggung?

Karakteristik Rumah Boyang

Rumah adat suku Mandar disebut Boyang. Rumah panggung ini terdiri dari material kayu dan ditopang dengan tiang penyangga.

Uniknya, tiang-tiang penyangga tersebut tidak ditancapkan ke tanah, tetapi hanya ditumpangkan ke sebuah batu datar untuk mencegah kayu lapuk.

Rumah Boyang memiliki dua tangga yang terletak dibagian depan dan belakang rumah, dan tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil antara 7 hingga 13. Dinding rumah biasanya menggunakan papan yang telah diukir sesuai dengan motif khas suku Mandar.

Makna Filosofis Dan Perbedaan Suku Mandar

Rumah Boyang terdiri dari dua jenis, yaitu Boyang Adaq dan Boyang Beasa. Boyang Adaq merupakan tempat tinggal bagi para bangsawan, sedangkan Boyang Beasa diperuntukkan untuk tempat tinggal masyarakat biasa.

Rumah Boyang Adaq biasanya diberikan ornamen yang melambangkan identitas tertentu yang mendukung tingkat sosial penghuninya. Rumah ini memiliki penutup bubungan dan semakin banyak susunannya berarti semakin tinggi derajat kebangsawanannya.

Rumah Adat Sulawesi Selatan Suku Luwuk

Rumah-Adat-Khas-Suku-Luwuk
sholehuddin.com

Suku asli kota Luwuk adalah suku Saluan, suku Balantak, dan suku Banggai. Meskipun kota Banggai telah berdiri, suku Banggai banyak yang berdiam di kota Luwuk. Seperti rumah adat di Sulawesi pada umumnya, rumah adat suku Luwuk juga bernuansa panggung.

Karakteristik rumah suku Luwuk

Karakteristik rumah adat suku Luwuk adalah memiliki bentuk persegi dengan ukuran pintu yang sama. Perbedaan rumah Luwuk dengan yang lainnya, adalah karena rumah ini terdiri dari tiga atau lima puncak yang disebut dengan Bubungan. Bubungan ini bertujuan untuk menunjukkan kasta dan status dari pemilik rumah.

Keunikan rumah ini juga dilihat dari adanya ornamen atau ukiran bunga Parenreng. Ukiran ini melambangkan filosofi yang tak pernah putus, atau simbol umur panjang.

Makna filosofis rumah Luwuk

Berdasarkan sejarahnya, rumah adat Luwuk berasal dari Raja Luwuk, seperti dilansir dari Celebes, dengan tiang penyangga sebanyak 88 dengan bahan dasar kayu.

Sama halnya dengan rumah adat Sulawesi lainnya, rumah adat Luwuk memiliki pembeda untuk setiap kelas sosial. Ornamen rumah adat Luwuk disebut dengan bunga prengreng yang melambangkan filosofi hidup menjalar sulur yang artinya hidup tidak terputus-putus.

Perbedaan rumah Luwuk

Hal yang membedakan rumah adat Luwuk dari rumah adat lainnya terletak pada bagian atas rumah. Rumah adat Luwuk terdiri dari tiga atau lima puncak yang disebut sebagai bubungan.

Bubungan adalah penanda siapa yang memiliki hunian dan juga menunjukkan kasta dan status pemilik rumah.

Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Sholehuddin.com

Komen Lurr