Rumah Adat Bali

7 min read

Rumah adat suku bali

Rumah Adat Bali – jadi salah satu budaya warisan Indonesia yang harus kamu ketahui. Selain terkenal dengan pemandangan alam dan tarian adatnya yang memikat, Bali juga punya rumah-rumah adat yang tak kalah cantik dan keren.

Bali adalah provinsi di Indonesia yang terkenal hingga mancanegara. Bahkan, banyak orang asing yang mengenal Bali, tetapi justru tidak tahu kalau Bali ada di Indonesia. Nah, jadi bisa dikatakan kalau Bali lebih terkenal dari negaranya sendiri.

Semua ini berkat keindahan alamnya yang menakjubkan. Pun, budaya dan adat istiadat yang tidak lekang oleh zaman.

Faktor lain yang membuat kota ini semakin epic adalah rumah adat Bali yang masih terjaga dengan baik. Masyarakat Bali masih melestarikan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Begitu juga dengan rumah-rumah yang ditempati dan masih menggunakan rumah tradisional. Meski banyak wisatawan yang silih berganti datang ke Pulau Dewata ini, tak menggoyahkan masyarakat untuk menjaga nilai luhur rumah adatnya.

Rumah adat Bali sama seperti rumah adat lain di Indonesia, yaitu memiliki nilai filosofi yang tinggi. Selain itu, terdapat pedoman khusus dalam mendesainnya seperti menggunakan kosala kosali. Secara filosofis, asta kosala kosali ini dapat diartikan sebagai terbangunnya kedinamisan dan keselarasan hidup.

Arsitektur rumah adat Bali memiliki struktur bangunan, ornamen dan fungsi yang sudah diwariskan secara turun temurun.

Menurut warga Bali hunian mereka tercantum dalam kitab suci Weda dan di ibaratkan sebagai miniatur alam semesta. Ada dua bagian dalam rumah adat Bali meliputi Gapura Candi Bentar dan rumah sebagai hunian.

Gapura Candi Bentar ini merupakan rumah adatnya. Terdapat aturan khusus mengenai pembangunan rumah adat tradisional Bali seperti arah, letak bangunan, dimensi pekarangan, struktur bangunan, serta konstruksi yang harus dibuat sesuai dengan ketentuan agama.

Ciri khas yang paling utama dari rumah adat Bali ada pada bangunan Gapura Candi Bentar. Pernahkah Anda melihat secara langsung atau melalui televisi ada dua gapura yang merupakan bangunan candi sejajar di rumah-rumah Bali? Itulah yang disebut dengan Gapura Candi Bentar. Gapura ini merupakan tempat masuk ke area halaman rumah.

Di bagian depan, setelah masuk melalui gapura ini, biasanya terdapat Pura (tempat ibadah umat Hindu). Pada gapura ini, terdapat juga anak tangga serta pagar besi yang saling terhubung.

Letak Pura sendiri akan terpisah dengan bangunan yang lain. Setiap rumah adat Bali mempunyai Gapura Candi Bentar pada bagian depannya.

Nama-Nama Rumah Adat Bali

Beberapa bangunan rumah adat Bali akan dijelaskan lebih rinci pada artikel di bawah ini:

Bale Manten

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Rumah adat Bale Manten adalah bangunan tradisional Bali yang dikhususkan untuk kepala keluarga dan anak perempuan. Bangunannya berbentuk persegi panjang dan dibangun di sebelah timur.

Isi dari rumah adat Bale Manten adalah dua ruangan (bale) lainnya yang dinamakan bale kanan dan bale kiri.

Rumah adat Bali yang pertama ada Rumah Bale Manten. Rumah ini memiliki bentuk bangunan persegi panjang dan biasanya di bangun di sebelah kiri. Biasanya, Rumah Bale Manten dikhususkan ditinggali oleh kepala keluarga dan anak perempuannya. Di rumah ini dibagi menjadi dua ruangan, yakni bale (ruang) kanan dan bale kiri.

Rumah Adat Bale Manten ini juga menjadi bentuk perhatian untuk anak gadis yang ada di keluarga Bali.

Bale Sekapat

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Rumah tradisional Bali juga memiliki gazebo khusus. Bangunan ini dinamakan Bale Sekapat. Ciri khas Bale Sekapat adalah empat tiang yang menyanggah atap megah. Fungsi dari Bale Sekapat adalah sebagai tempat keluarga berkumpul dan bersantai ria.

Bale sekapat adalah rumah adat Bali yang biasanya difungsikan sebagai tempat bagi para anggota keluarga bersantai bersama. Ciri khas dari rumah adat Bali yang satu ini ada pada empat tiang yang menyangga atap rumah sebanyak 4 empat buah.

Bale Sekapat lebih cocok jika dianalogikan dengan gazebo yang memiliki empat tiang. Tempat ini seringnya difungsikan untuk tempat bersantai bagi anggota keluarga. Dengan adanya Bale Sekapat, keluarga Bali akan menjadi lebih akrab satu sama lain sehingga terjalin hubungan yang harmonis.

Kelumpu Jineng

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Rumah adat Bali yang satu ini punya bentuk yang unik, bukan? Ya, Klumpu Jineng memiliki struktur bangunan panggung dengan atap dan dinding luarnya yang tertutup jerami kering.

Biasa digunakan sebagai lumbung gabah setelah dijemur, Klumpu Jineng hanya biasanya hanya terdapat di beberapa daerah saja.

Saat ini, Klumpu Jineng sudah dimoderisasi dengan dibangun menggunakan semen, pasir dan batu bata dibanding kayu saja seperti zaman dahulu.

Gambar rumah adat Bali di atas disebut dengan Jineng atau Klumpu. Apabila lumbung dipakai sebagai tempat penyimpanan bahan pokok, Jineng berfungsi sebagai bangunan penyimpan gabah setelah dijemur.

Ukurannya sedang dan terbuat dari kayu serta atap jerami kering. Kini, Klumpu atau Jineng hanya bisa ditemui di beberapa daerah saja.

Beberapa Klumpu bahkan sudah dimodernisasi dengan material batu bata, semen, dan pasir

Bale Dauh

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Masyarakat Bali memiliki tempat khusus menerima tamu yang disebut dengan Bale Dauh. Selain itu, ruangan dalam rumah adat Bali ini juga bisa difungsikan sebagai tempat tidur bagi anak remaja laki-laki.

Tak beda dengan Bale Manten, bentuk Bale Dauh juga persegi panjang. Namun, Bale Dauh letaknya ada di bagian dalam ruangan.

Peletakannya ada di sisi barat, posisi lantainya harus lebih rendah ketimbang Bale Manten. Ciri khas lainnya adalah adanya tiang penyangga di ruangan ini. Akan tetapi, jumlahnya berbeda antara rumah yang satu dengan lainnya.

Setiap rumah adat di Bali pasti dilengkapi dengan Bale Dauh. Bale Dauh adalah ruang tamu dari rumah tradisional Bali.

Pada beberapa rumah, ruangan ini dikhususkan untuk menerima tamu. Namun, tidak banyak juga yang menggunakan ruangan ini sebagai kamar tidur anak laki-laki. Bale Dauh diposisikan di sisi barat rumah, dan lantainya harus lebih rendh dari Bale Manten.

Pura Keluarga

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Seperti Pura pada umumnya, Pura Keluarga juga berfungsi untuk beribadah dan berdoa. Setiap rumah di Bali memiliki bangunan ini.

Pura Keluarga juga disebut dengan bangunan Pamerajan atau Sanggah. Peletakannya ada di sudut timur laut dari rumah hunian

Berbeda dengan Bale Dauh, bangunan Pura Keluarga yang terdapat di rumah adat masyarakat Bali difungsikan sebagai tempat beribadah.

Keberadaan bangunan ini wajib dimiliki oleh seluruh masyarakat Bali, mau yang berukuran kecil mau pun yang besar. Berada di area Timur Laut rumah, Pura Keluarga juga bisa disebut sebagai pamerajan atau sanggah.

Bale Gede

 

rumah adata bali
sholehuddin.com

Sama dengan Bale Manten dan Bale Dauh, bentuk dari Bale Gede adalah persegi dengan tiang yang berjumlah 12. Ruangan ini berfungsi untuk melaksanakan upacara adat. Sehingga, posisinya harus lebih tinggi daripada Bale Manten.

Rumah adat ini memiliki ukuran yang lebih besar ketimbang bangunan lainnya. selain untuk melakukan ritual adat, Bale Gede juga sering dijadikan tempat berkumpul dan menyajikan makanan khas Bali serta membakar aneka sesaji.

Ada rumah adat Bali yang tak kalah eksotis yakni Bale Gede. Sesuai dengan namanya, Bale Gede diharuskan dibangun lebih tinggi dari bangunan lain di sekitarnya.

Punya ukuran yang besar, Bale gede memang difungsikan sebagai tempat berkumpul dan menyajikan makanan khas bali sembari membakar aneka sesaji. Di bangunan ini, juga terdapat tiang yang berjumlah hingga 12 buah.

Angkul-Angkul

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Bagian dari rumah adat Bali ini merupakan pintu masuk utama sebelum rumah. Sebenarnya, bentuknya hampir sama saja dengan Gapura Candi Bentar.

Akan tetapi, fungsi dari Angkul-Angkul lebih condong ke pintu masuk. Sebagai pembeda Angkul-Angkul dengan Gapura Candi Bentar adalah pada atap yang menghubungkan kedua bangunan letaknya sejajar.

Aling-Aling

Aling-Aling
sholehuddin.com

Aling-aling adalah bangunan rumah yang berfungsi sebagai pembatas antara pekarangan luar dan angkul-angkul. Bangunan ini juga biasanya membatasi angkul-angkul dengan tempat beribadah atau area suci. Aling-aling berarti energi positif, baik untuk keharmonisan rumah.

Sesuai dengan namanya, Aling-Aling merupakan pembatas antara Angkul-Angkul dengan halaman yang menjadi tempat suci. Bangunan dalam rumah adat Bali ini diyakini dapat memberi aura positif.

Dinding pembatas disebut dengan penyengker. Di dalamnya ada ruangan yang bisa digunakan untuk beraktivitas bagi penghuninya. Beberapa orang juga menggunakan patung sebagai pembatas atau penyengker.

Pawaregen

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Pawaregen merupakan istilah untuk menyebut dapur pada rumah adat Bali. Bangunan ini berukuran sedang. Letaknya di sebelah barat laut atau selatan dari rumah utama.

Terdapat dua area pada ruangan ini yaitu area memasak serta area penyimpanan alat-alat dapur. Cara memasaknya pun masih tradisional yaitu menggunakan kayu bakar.

Pawaregen adalah bagian rumah tradisional Bali yang berfungsi sebagai dapur. Ukurannya tidak lebih besar dari Bale Gede, dan tidak lebih kecil dari bale lainnya.

Posisi Pawaregen biasanya dibangun di sebelah selatan atau barat laut rumah. Dalam bangunan ini terdapat area penyimpanan alat-alat memasak dan dapur kotor, atau area tempat memasak.

Lumbung

rumah-adat-nusa-tenggara-barat-3
sholehuddin.com

Lumbung adalah rumah adat asal Bali yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan pokok seperti beras, jagung, dan lain-lain.

Rumahnya lebih kecil dari bale dan terpisah dari bangunan utama.

Material Rumah Adat Bali

Sesuai dengan adanya sistem kasta pada agama Hindu, pembangunan rumah adat Bali tidak dapat disamaratakan. Selain karena kasta, juga disebabkan karena faktor ekonomi setiap keluarga.

Nah, bagi masyarakat biasa, membangun rumah adat hanya perlu menggunakan peci (terbuat dari tanah liat). Sedangkan bangsawan menggunakan tumpukan bata untuk dijadikan sebagai pondasi dasar rumah. Bagian atap biasa menggunakan genting.

Material pembangunan rumah adat tua ini sebenarnya sangat sederana. Zaman dahulu, masyarakat Bali kelas menengah ke bawah membangun rumah adat menggunakan tanah liat.

Atap rumah para raykat biasa biasanya terbuat dari jerami kering. Sementara itu, para bangsawan menggunakan tumpukan bata dan pondasi dasar yang lebih kuat.

Atap rumahnya pun tersusun dari genting tanah liat merah. Hal ini masih diterapkan pada rumah-rumah Bali modern.

Bangunannya terlihat lebih kokoh untuk rumah-rumah besar, sementara rumah di pedesaan biasanya lebih kecil dan terlihat sedikit rentan.

Filosofi Rumah Adat Bali

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan di dalam hidup akan tercapai bila adanya hubungan yang harmonis antara aspek palemahan, pawongan, serta parahyangan. Maka dari itu, pembangunan rumah adat harus meliputi aspek tersebut yang dikenal dengan istilah “Tri Hita Karana”. Pawongan adalah penghuni rumah, palemahan artinya harus ada hubungan yang baik antara penghuni dan lingkungannya.

Umumnya, arsitektur tradisional Bali penuh dengan hiasan seperti ukiran, peralatan dan juga pemberian warna. ragam hias ini mengandung arti tertentu untuk mengungkapkan keindahan simbol-simbol serta penyampaian komunikasi. Ragam hias ini bisa berupa berbagai jenis fauna yang ditampilkan dalam bentuk patung sebagai simbol-simbol dalam ritual.

Jika Anda berjalan-jalan di perumahan Bali, maka jangan heran kalau di persimpangan jalan ada sesajen di atas wadah berupa janur serta kembang dan dupa yang menyala. Pura pun bertebaran di berbagai tempat. Bahkan, Anda akan melihat Pura di perkantoran dan pertokoan.

Rumah adat yang dibangun menggunakan aturan Asta Kosala Kosali ini bisa diibaratkan dengan Feng Shui dalam budaya Cina. Untuk membangun rumah adat, orang Bali akan mementingkan arah ke mana menghadap. Sebab, arah memiliki arti penting dalam kepercayaan dan kehidupan suku Bali.

Hal yang dianggap keramat atau suci adalah dengan meletakkan rumah pada arah gunung. Sebab, gunung adalah benda yang sangat keramat. Arah ini disebut dengan istilah Kaja. Hal yang sebaliknya yaitu hal yang tidak dianggap suci akan diletakkan pada arah laut atau disebut dengan Kelod.

Jadi, Pura desa yang dianggap suci akan menghadap ke arah gunung (Kaja), sedangkan Pura Dalem ataupun kuil yang berhubungan dengan kematian akan diarahkan ke laut (Kelod). Dalam hal penyusunan rumah, orang Bali tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan agama dan adatnya.

Ragam Ukiran dan Hiasan Rumah Adat Bali

Arsitektur rumah Bali memang penuh dengan hiasan. Ukiran dan pahatan mengambil kehidupan di bumi berupa manusia, tumbuhan, dan juga binatang. Ragam ukiran atau hiasan yang ditempatkan pada sisi-sisi bangunan meliputi:

  • Keketusan yaitu motif tumbuhan dengan lengkungan-lengkungan bunga besar dan daun lebar. Keketusan biasanya ditempatkan pada bidang yang luas. Jenisnya ada bermacam-macam termasuk keketusan wangsa, bunga tuwung, bun-bun dan sebagainya.
  • Kekarangan yaitu pahatan dengan motif karangan seperti tumbuhan lebat dengan daun terurai ke bawah laiknya rumpun perdu. Hiasan ini dipahatkan di sudut batasan sebelah atas yang disebut dengan karang simbar. Dan di sendi tugek disebut dengan karang suring.
  • Pepatran yaitu hiasan motif bunga-bungaan. Contohnya patra sari yang ditempatkan pada bidang sempit laiknya tiang-tiang dan blandar. Jenis patra lainnya meliputi patra pid-pid, patra pal, patra samblung, patra sulur, dan juga patra ganggong. Semuanya berbentuk deret memanjang dan dibuat berulang-ulang.

Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Sholehuddin.com

Komen Lurr