Rumah Adat Aceh

4 min read

Rumah adat Aceh

Rumah Adat Aceh – Indonesia memang terkenal dengan keberagaman budaya, suku, ras, dan agamanya, termasuk salah satunya rumah adat. Selain sebagai tempat tinggal, rumah adat juga menjadi simbol peninggalan nenek moyang yang harus tetap dilestarikan. Setiap rumah adat memiliki keunikannya tersendiri, termasuk rumah adat Aceh.

Pada setiap Rumoh Aceh terdapat sebuah rambat atau ruang utama. Jumlah keseluruhan ruang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan masing-masing masyarakat.

Ada rumoh yang memiliki tiga ruang dengan membutuhkan 16 tiang, ada juga yang memiliki lima ruangan dengan 24 tiang yang dibutuhkan. Jika ingin menambah ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan mudah.

Di mana tinggal menambah dan menghilangkan bagian yang ada di sisi kiri atau sisi kanan rumah. Bagian tersebut biasa disebut seramoe likot atau serambi belakang dan seramoe reunyeun atau serambi bertangga, yaitu tempat masuk rumah yang selalu berada di sebelah timur.

Pintu utama pada rumoh Aceh dibuat hanya setinggi 120-150 centimeter (cm). Sehingga ketika ada orang yang datang dan masuk ke rumoh Aceh harus menunduk. Itu sebagai simbol untuk menghormati tuan rumah.

Berbentuk Rumah Panggung

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Rumah adat Aceh memiliki bentuk panggung dengan atap tinggi. Sejarahnya adalah, agar penghuni rumah terhindar dari serangan binatang buas. Tinggi tiang rumah yang bisa mencapai 3 meter, supaya air tidak masuk ke dalam rumah jika sedang terjadi banjir.

Dibangun Menggunakan Bahan” Alam

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Rumah adat Aceh dibangun berdasarkan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat terdahulu. Menurut para leluhur, rumah bukan hanya sekadar tempat tinggal tetapi juga ekspresi keyakinan akan penciptanya. Sehingga, dalam bahan pembuatannya rumah adat Aceh memang selalu menggunakan bahan-bahan dari alam.

Masyarakat Aceh tidak pernah menggunakan paku untuk menyambung tiang yang satu dengan tiang lainnya. Mereka mengikat kuat dengan rotan atau pasak. Meskipun begitu, rumah adat Aceh digadang-gadang dapat kokoh hingga 200 tahun

Untuk membuat bangunan rumoh Aceh tidak menggunakan bahan-bahan membuat rumah pada umumnya. Rumoh Aceh dibuat dengan bahan-bahan alam, seperti kayu atau papan.

  • Kayu, bahan utama membuat rumoh Aceh
  • Papan, untuk membuat dinding dan lantai
  • Bambu (trieng), untuk membuat atas lantai, gasen (rusuk atas), beuleubah (tempat menyemat atap).
  • Tali pengikat (taloe meu ikat), terbuat dari rotan (awe), talik ijok, dan kulit pohon waru.
  • Daun enau, untuk membuat atap.
  • Daun rumbia (oen meuria), untuk membuat atap. Pelepah rumbia (peuleupeuk meuria), untuk membuat dinding dan rak-rak.

Bagian Depan Rumah Menghadap Ke Barat

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Masyarakat Aceh tidak pernah melupakan unsur agama dalam pembangunan rumah. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa hal, seperti bagian depan rumah adat Aceh yang dibangun menghadap ke arah kiblat. Menandakan bahwa masyarakat Aceh tidak pernah lupa akan Tuhan sebagai Maha Pencipta.

Toren Air Di Depan Rumah

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Rumah adat Aceh juga memiliki keunikan lain yaitu selalu mempunyai gentong air di depan rumah. Gentong tersebut diletakkan oleh penghuni rumah agar tamu-tamu yang datang dapat mencuci kaki mereka terlebih dahulu.

Sehingga kaki para tamu sudah bersih ketika memasuki rumah. Artinya, tamu-tamu yang datang mempunyai niat yang baik terhadap tuan rumah.

Memiliki Jumlah Anak Tangga Ganjil

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Aceh memang dikenal sebagai salah satu provinsi yang memiliki nilai religius yang tinggi. Selain letak rumah yang menghadap ke barat, jumlah anak tangga juga menjadi hal yang harus diperhatikan dalam membangun rumah adat ini.

Setiap rumah adat Aceh memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Hal ini mengikuti kepercayaan umat Islam, bahwa Allah menyukai hal-hal yang berjumlah ganjil.

Filosofi Rumah Adat Aceh

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Berikutnya hal yang menarik untuk disimak dari rumah adat Aceh adalah filosofi warna. Tidak jauh berbeda dengan rumah adat lainnya, Rumoh Aceh biasanya juga dicat dengan pilihan warna yang khas.

Setiap warna yang dipakai mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Aceh. Berikut beberapa pilihan warna rumah adat Aceh dan makna filosofinya yang perlu diketahui :

  • Kuning : digunakan pada bagian sisi segitiga perabung. Warna kuning bagi masyarakat Aceh dikenal dengan sifat yang kuat, hangat, dan dapat memberikan nuansa cerah.
  • Merah : digunakan untuk melengkapi garis ukiran rumah. Merah dipahami sebagai karakter emosi yang berubah-ubah dan naik turun. Merah juga melambangkan gairah, senang, dan semangat. Artinya, emosi orang Aceh yang mudah naik turun juga sekaligus menunjukkan semangat dan gairah dalam mengerjakan sesuatu.
  • Putih : digunakan untuk melengkapi ukiran rumah dengan nuansa yang lebih netral. Warna putih melambangkan suci dan bersih. Pada bagian ukiran juga diselingi dengan warna oranye yang melambangkan kehangatan, kesehatan, dan kegembiraan.
  • Hijau : digunakan pada motif ukiran Rumoh Aceh. Warna hijau menandakan karakter kesejukan dan kehangatan. Hijau juga merupakan warna daun yang menyiratkan kesuburan.

Elemen Rumah Adat Aceh

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Setelah mengetahui makna filosofis rumah adat Aceh, berikutnya perlu diketahui bahwa Rumoh Aceh ini mempunyai beberapa elemen penyusun.

Setiap elemen penyusun bangun rumah adat aceh juga mempunyai nama khas dan makna filosofis yang tidak kalah menarik. Berikut beberapa elemen rumah adat Aceh dan makna filosofisnya yang perlu diketahui :

  • Tameh: tiang yang digunakan sebagai penyangga badan rumah. Elemen ini dilatarbelakangi oleh peribahasa khas Aceh, “Kreuh beu beutoi kreuh, beulagee kreuh kayee jeut keu tamèh rumoh; Leumoh beu beutoi leumoh, beulagee taloe seunikat bubông rumoh” (Jika keras, haruslah sekeras kayu tiang penyangga rumah; jika lentur, mesti selentur tali pengikat atap rumah). Filosofi hidup orang Aceh tentang hal ini adalah teguh pendirian, tetapi tetap berhati lembut.
  • Tameh raja: tiang raja, yakni tiang utama sisi kanan pintu masuk. Disebut tiang raja karena ukurannya yang lebhi besar dari beberapa tiang penyusun biasa yang digunakan.
  • Tameh putroe: tiang putri, yakni tiang utama sisi kiri pintu masuk. Tiang putri merupakan pasangan tiang raja. Disebut tiang putri karena posisinya berdampingan dengan tiang raja
  • Gaki tameh: kaki tiang, yaitu alas tiang, biasanya dari batu sungai. Alas tiang ini berfungsi menyangga tiang kayu agar tidak masuk ke dalam tanah.
  • Rok: balok pengunci biasa. Sifatnya untuk menguatkan hubungan antar-ujung setiap balok.
  • Thoi: balok pengunci yang arahnya tegak lurus dengan rok.
  • Peulangan: tempat bertumpu dinding dalam (interior).
  • Kindang: tempat bertumpu dinding luar (eksterior).
  • Aleue: lantai, dibuat dari papan berbilah kecil.
  • Rante aleue: pengikat lantai yang biasanya terbuat dari rotan atau tali.
  • Lhue: balok rangka untuk penyangga lantai.
  • Neudhuek lhue: tempat bertumpu lhue.
  • Binteh: dinding.
  • Binteh cato: dinding catur, salah satu bentuk jalinan dinding.
  • Boh pisang: papan kecil di atas kindang.
  • Tingkap: jendela. Jendela rumah Aceh dibuat ukuran kecil. Jendela utama ada
  • Pinto: pintu.
  • Rungka: rangka atap.
  • Tuleueng rhueng: balok wuwung, tempat bersandar kaso pada ujung atas. Balok ini terbuat dari kayu ringan agar tidak memberatkan beban atap. Gaseue gantong: kaki kuda-kuda.
  • Puteng tameh: bagian ujung tiang yang dipahat, sebagai penyambung balok.
  • Taloe pawai: tali pengikat atap yang diikatkan pada ujung bui teungeut.
  • Bui teungeut: potongan kayu sebagai penahan neudhuek gaseue.
  • Tulak angen: tulak angin, rongga tempat berlalu angin pada dinding sisi rumah yang berbentuk segi tiga

Rumah Tahan Gempa

Rumah adat Aceh
sholehuddin.com

Dari berbagai elemen penyusun rumah adat Aceh, tidak heran jika rumah panggung khas Aceh ini disebut sebagai rumah yang tahan gempa.

Dalam hal ini, rumah adat Aceh menggunakan berbagai bahan alam untuk yang ringan namun tetap kuat. Salah satunya seperti daun rumbia yang digunakan sebagai atap, semakin terkena sinar matahari semakin kering dan ringan.

Rumah adat Aceh pun tidak menggunakan paku besi atau bahan apapun yang dapat membuat rumah menjadi berat.

Ujung setiap balok disatukan dengan pasak kemudian diperkuat satu sama lain dengan diberi pahatan dan lubang. Selain itu, jumlah tiang penyangga Rumoh aceh juga banyak.

Sehingga komponen ini dapat membuat rumah semakin kuat. Bahkan untuk menahan gempa, tiang-tiang yang digunakan dipilih dari bahan kayu yang padat.

Bukan hanya itu, posisi tiang juga disusun tidak terlalu rapat. Hal ini sangat berguna untuk memberikan ruang bagi arus air untuk melewati bawah rumah dengan lebih leluasa. Sehingga rumah adat Aceh ini sangat aman dan terencana untuk mengantisipasi banjir.

 

Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Sholehuddin.com

Komen Lurr