Isi Kandungan Hadits Arbain Ke 12

3 min read

isi kandungan

Isi Kandungan Hadits Arbain Ke 12-Nah setelah kita membahas isi kandungan hadits arbain ke 11. Nah kali ini kita akan melanjutkan ke hadits berikutnya. 12.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya semisal itu pula)

[HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Kandungan Dan Fiqih Hadits

Hadits ini termaasuk jawami’ul kalim. Yaitu perkataan singkat yang maknanya dalam dan kandungannya sangat luas. Banyak pelajaran penting di dalamnya.

Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah menjelaskan hadits tersebut kepada kami dengan kalimat yang singkat dan penuh manfaat, di dalamnya terkumpul kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.”

Penjelasan Hadits Ke 12

Hadits ini di riwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat dari kabilah Bani Daus, Yaman. Di masa jahiliyah ia bernama Abdu Syams, lalu di masa Islam namanya adalah Abdurrahman bin Shakr.

Abu Hurairah masuk islam melalui dakwah Thufail bin Amr Ad Dausi. ia masuk islam saat muda dan pada usia 26 tahun, dia hijrah ke Madinah menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saat itu Rasulullah telah memenangkan Perang Khaibar.

Di Madinah, Abu Hurairah tinggal di Masjid Nabawi. Menjadi ahlus suffah. Tidak seperti mayoritas sahabat yang sehari-harinya bekerja, Abu Hurairah memfokuskan diri untuk mulazamah bersama Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam.

Dia selalu hadir ketika Rasulullah mengajar di Masjid Nabawi, dan dia selalu mengikuti kemana pun Rasulullah pergi.

Maka dalam waktu singkat, Abu Hurairah mendengar demikian banyak hadits dari Rasulullah.

Dengan keistimewahannya yang tak pernah lupa hadits sejak didoakan Rasulullah, dia menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Meskipun hanya menjumpai Rasulullah 4 tahun, Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah 5.347 hadits.

Abu Hurairah dikenal selalu menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Menjauhi hal yang sia-sia. Sepeninggal Rasulullah, ia memiliki rumah dan berkeluarga. Di sepertiga malam terakhir, ia membangunkan keluarganya agar bisa sholat tahajud. Jadi, Abu Hurairah termasuk terdepan dalam mengamalkan hadits yang ia riwayatkan ini.

Husn (حسن) artinya adalah kebaikan. Bisa juga bermakna kesempurnaan. Laa ya’niih (لا يعنيه) artinya adalah tidak bermanfaat. Baik manfaat di dunia maupun manfaat di akhirat. Bisa pula bermakna sia-sia.

Hadits ini pendek tetapi maknanya dalam dan mengandung pelajaran yang sangat luas. Para ulama mengistilahkan dengan jawami’ul kalim (جوامع الكلم) yakni kalimat yang singkat dan padat. Bahwa di antara tanda kebaikan islam dan kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan perkara yang sia-sia. Perkara yang tidak bermanfaat baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Kandungan Hadits Dan Pelajaran Penting

Hadits ini juga memiliki kandungan yang luas dan banyak pelajaran penting. Hingga sejumlah ulama menyebutnya sebagai hadits yang menghimpun kumpulan kebaikan.

“Rasulullah menjelaskan hadits tersebut kepada kami dengan kalimat yang singkat dan penuh manfaat, di dalamnya terkumpul kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat,” kata Abu Hurairah ketika mengomentari hadits ini.

Nah berikut di bawah ini enam kandungan hadits arbain ke 12 dan pelajaran penting:

1. Membangun Masyarakat Mulia

Hadits ini menunjukkan bahwa islam ingin membangun masyarakat mulia. masyarakat yang di penuhi dengan kebaikan di dunia, yang kemudian mengantarkan kepada kebaikan di akhirat.

Ciri utama masyarakat mulia adalah masyarakat yang menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjahui perbuatan yang sia-sia. Masyarakat yang produktif.

Sebaliknya, masyarakat yang tidak produktif menyibukkan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, mereka adalah masyarakat yang merugi.

Sebagaimana semangat Surat Al Ashr:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 1-3)

2. Prinsip Menejemen Waktu

Hadits ini mengajarkan prinsip menejemen waktu. Yaitu hanya mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Sebaliknya, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

karenanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tidak suka saat melihat pemuda yang melamun.

Sebab melamun tidak bermanfaat baik untuk dunia maupun untuk akhirat. Melamun termasuk aktifitas yang sia-sia.

Demikian juga aktifitas yang tidak bermanfaat, harus ditinggalkan.  Apalagi kalau aktifitas itu justru merugikan orang lain dan merugikan akhirat kita. Misalnya ghibah, membully orang, menyakiti orang lain, dan sebagainya.

3. Muslim Itu Menjaga Diri

Islam menentukan seorang muslim untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.

Apalagi kalau itu merugikan orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang baginya.” (HR. Bukhari)

4. Tanda Kuat Dan Lemahnya Iman

Hadits aribain nawawi ke 12 ini menunjukan bahwa meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat merupakan tanda sempurnanya iman.

Mahfum mukhalafah-nya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan tanda lemahnya iman.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ تُوُفِّىَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ يَعْنِى رَجُلٌ أَبْشِرْ بِالْجَنَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوَلاَ تَدْرِى فَلَعَلَّهُ تَكَلَّمَ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ أَوْ بَخِلَ بِمَا لاَ يَنْقُصُهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, seorang laki-laki dari kalangan sahabat nabi meminta nasehat kepada beliau, kabarkan apa yang bisa memasukkan surga. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau tidak tahu, seseorang terhalang dari surga karena mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat atau bakhil terhadap apa yang tak mengurangi hartanya.”(HR. Tirmidzi)

5. Jalan Keselamatan

Tidaklah sebuah perkara  akan berakibat mencelakakan manusia, kecuali Allah haramkan perkara itu.

Tidaklah suatu perbuataan menjerumuskan ke dalam kehancuran, kecuali Allah larang perbuatan itu.

Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat adalah jalan keselamatan. Sebab tidaklah seseorang bisa meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat kecuali ia juga pasti bisa meninggalkan yang haram.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari Uqbah bin Amir, ia mengatakan, aku bertanya: Ya Rasulullah, apakah jalan keselamatan itu? Beliau bersabda: “Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi)

6. Pentingnya Tazkiyatun Nafs

Hadits Arbain Nawawi ke-12 ini juga menunjukkan betapa pentingnya tazkiyatun nafs. Pentingnya membersihkan hati. Dan di antara tanda hati yang bersih adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.

Sebaliknya, ketika seseorang menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, itu merupakan tanda hatinya tidak bersih. Sebab ia jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Tanda bahwa Allah berpaling dari seseorang adalah jika seorang hamba menyibukkan diri dengan hal-hal yang tak bermanfaat.”

 

Komen Lurr