Isi Kandungan Hadist Arbain Ke-5

2 min read

Pengertian Hadits Arbain An Nawawiah (1)

Isi Kandungan Hadist Arbain ke 5- Setelah kemaren kita membahas isi kandungan hadist arbain ke 4 kali ini kita akan membahas tentang isi kandungan arbain yang ke 5.

Bunyi Hadist Arbain ke 5

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Artinya : dari ummul mukminin, ummu abdillah, Aisyah Radiallahu anha dia berkata “Rasulullah SAW bersabda : (Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak”

 

Isi Kandungan Hadist Arbain Ke 5

Apa saja sih isi kandungan hadist ini? yukkk kita simak :

1). Syarat diterimanya suatu amal ada dua yaitu : Ikhlas dan Ittiba’ (mengikuti tuntunan). Syarat yang pertama yaitu niat, pembahasan niat telah dibahas dalam hadist arbain yang pertama , yaitu segala seasuatu itu tergantung pada niatnya. Sedangkan ittiba’ yaitu mengikuti sunnah-sunnah nabi dan para sahabat yang terdahulu.

2). Seseorang yang mengamalkan suatu amalan dan amalan tersebut tidak ada tuntunannya maka amalan tersebut sudah pasti mardud (tertolak) dan tidak akan diterima di sisi Allah Swt.

3). Kalimat “man ahdatsa” berarti mengadakan amalan yang baru dalam agama. Kalimat “fii amrinaa” bermakna dalam agama.

4). Dari dalil ini dapat disimpulkan bahwa semua bid’ah itu madzmumah (tercela), tidak diterima di sisi Allah. Sehingga pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah atau membaginya menjadi lima sesuai dengan hukum taklif (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) tidaklah tepat. Ditambah lagi dalam hadits disebutkan celaan pada setiap macam bid’ah di mana disebut “kullu bid’atin dholalah”, setiap bid’ah itu sesat. Kata “kullu” di sini maknanya umum, artinya semua bid’ah itu tercela.

5). Amalan Bid’ah itu ada macamnya, yaitu :

  • Bid’ah yang terletak pada pokok amalan, yang artinya ia mengamalkan amalan yang asalnya tidak ada tuntunannya, maka amalan tersebut tidak diterima.
  • Bid’ah yang terletak pada tambahan namun amalan pokoknya tetap disyari’atkan, maka amalan tambahan ini tertolak, namun amalan pokoknya diterima jika memang tidak dirusak dengan amalan tambahan.
  • Amalan yang asalnya ada tuntunanya namun seseorang mengerjakannya menyelisihi ketentuan syari’at, amalan tersebut tidak diterima, seperti halnya berpuasa dari berbicara, maka tidak ada tuntunan;
  • sudah sesuai dengan ketentuan syari’at dan caranya, namun jumlahnya yang berbeda dengan ketentuan, seperti ketika mengamalkan dzikir pagi petang dibaca seribu kali untuk bacaan istighfar, maka ini menyelisihi ketentuan.
  • Amalannya disyari’atkan namun menyelisihi dengan mengistimewakan hari dan tempat, seperti berpuasa pada hari Selasa karena dianggap sebagai hari lahirnya, maka amalan tersebut tidak diterima.

6).  Jika ada yang melakukan ibadah dengan cara yang terlarang yang tidak disyari’atkan apakah amalan tersebut diterima atau ditolak, maka ini rinciannya :

  • Jika larangan yang dilakukan di luar dari ibadah seperti berhaji dengan harta haram atau berwudhu dari bejana yang terbuat dari emas, ibadahnya sah, namun berdosa karena melakukan hal yang haram
  • Jika larangan tersebut masuk dalam ibadah, misalnya shalat di rumah hasil rampasan, maka yang dilakukan adalah perbuatan yang haram dan pelakunya berdosa. Namun jumhur ulama menyatakan tetap mendapatkan pahala. Sedangkan Imam Ahmad menganggap shalatnya tidaklah sah.

Dampak Buruk Bid’ah

Adapun dampak-dampak buruk dari bid’ah bagi pelakunya, yaitu :

  • Bid’ah bisa menjauhkan pelakunya dari Allah :

Ayyub As-Syikhtiyani (salah satu tokoh tabi’in ) berkata :

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً

“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah Swt” (Hilyah Al-Auliya’, 1:392)

Hadist ini sesuai dengan hadist nabi Saw yang artinya berbunyi :

Akan muncul di antara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian (para sahabat), puasa kalian, dan amal kalian di samping shalat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca Al Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya.” (HR. Bukhari, no. 5058, 6931; Muslim, no. 1064)

Perhatikan, bagaimana mulanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka sebagai kaum yang amat giat beribadah, lalu menjelaskan betapa jauhnya mereka dari Allah.

  • Pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad Saw bersabda :

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ

أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’” (HR. Bukhari, no. 7049, dari Abu Wail, dari ‘Abdullah)

Dalam riwayat lain dikatakan :

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari, no. 7051)

Itulah doa laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran nabi Muhammad Saw dan untuk para pelaku bid’ah.

  • Pelaku bid’ah tidak akan mendapatkan Syafa’at dari Rasulullah Saw

Disebutkan dalam sebuah hadist :

أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ

ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim ‘alaihis salam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri… maka kutanyakan: “Ya Rabbi… mereka adalah sahabatku?”, akan tetapi jawabannya ialah: “Kamu tidak tahu akan apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu…”  (HR. Bukhari, no. 6526, 4625, 4626, 4740, 3349; Muslim, no. 2860, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas)

 

Komen Lurr